Kepala BakesbangPol Barito Utara Rayadi KALTENGSATU, Muara Teweh – Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, derasnya arus budaya luar, serta meningkatnya fenomena perceraian dan perselingkuhan di kalangan pasangan muda, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Barito Utara, Rayadi, mengajak masyarakat kembali merenungkan akar budaya bangsa sebagai pondasi kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara.
Rayadi menilai bahwa kebahagiaan hidup pada masa lalu lahir dari kuatnya pendidikan karakter dan penanaman budi pekerti yang diwariskan secara turun-temurun di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
“Peradaban yang dibentuk oleh budaya sepanjang masa dapat kita rasakan dari bagaimana generasi terdahulu membangun rumah tangga dengan tanggung jawab, kesetiaan, serta penghormatan terhadap nilai-nilai luhur,” ujarnya, di Muara Teweh, Kamis (28/5/2026),
Menurutnya, pada masa lalu laki-laki dipersiapkan menjadi sosok pelindung dan penanggung jawab keluarga, sementara perempuan dibentuk menjadi penyejuk, pengarah, sekaligus penyemangat dalam kehidupan rumah tangga.
Perpaduan kedua peran tersebut melahirkan pasangan suami istri yang kuat dan harmonis, bahkan banyak yang menjalani pernikahan melalui perjodohan namun tetap mampu menjaga kebahagiaan hingga usia tua.
Rayadi juga mengingat kembali nasihat seorang guru ketika dirinya masih bersekolah di MTsN Muara Teweh. Saat itu ia pernah diajarkan bahwa rasa cinta tidak boleh diobral, karena jika digunakan tanpa kendali, cinta dapat memudar sebelum waktunya dan kehilangan makna ketika benar-benar dibutuhkan dalam kehidupan rumah tangga.
“Pesan itu sangat dalam. Cinta harus ditempatkan pada waktu, keadaan, dan tempat yang tepat agar tetap memiliki kekuatan dalam menopang perjalanan rumah tangga,” katanya.
Ia menilai, lunturnya nilai kesetiaan, lemahnya pembentukan karakter sejak dini, hingga minimnya perhatian orang tua terhadap pendidikan moral anak menjadi salah satu faktor yang patut direnungkan terkait meningkatnya angka perceraian dan perselingkuhan di kalangan generasi muda saat ini.
Di sisi lain, Kaban KesbangPol Barito Utara Rayadi juga menegaskan bahwa bangsa Indonesia sejatinya memiliki pedoman hidup yang lahir dari akar budaya sendiri, yakni Pancasila.
Menurutnya, nilai-nilai dalam Pancasila bukan sekadar simbol negara, melainkan hasil penghimpunan nilai luhur yang hidup dalam budaya masyarakat Indonesia sejak dahulu.
“Kita harus bertanya pada diri sendiri, apakah kita masih benar-benar memegang teguh budaya luhur warisan nenek moyang. Jika tidak, maka ideologi yang kita miliki dikhawatirkan hanya menjadi simbol tanpa kekuatan nyata dalam kehidupan,” tegasnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali membumikan Pancasila melalui kehidupan sehari-hari, dimulai dari lingkungan keluarga, pendidikan karakter anak, penghormatan terhadap budaya sendiri, serta kemampuan menyaring pengaruh budaya luar yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa.
“Hargailah budaya sendiri sebelum kita tenggelam oleh budaya asing yang tidak relevan dengan nilai kehidupan bangsa kita,” pungkas Rayadi.(kh3)