Indonesia Jum`at, 06-08-2021 Jam 00:32:14
KaltengSatu
Home Berita LINTAS-KALTENG Barito Utara

Disbudparora Barut Fokus Dalam Upaya Pelestarian Kebudayaan dan Pariwisata

by Redaksi - Tanggal 23-06-2021,   jam 00:32:14
Disbudparora Barut Fokus Dalam Upaya Pelestarian Kebudayaan dan Pariwisata BADAN ARKELOGI KALSEL-Kepala Dinas Budparpora Barito Utara Hj Annisa Cahyawati bersama salah seorang petugas di Badan Arkeologi Kalsel, Senin (21/6/2021) kemarin.(foto:Disbudparpora Barut)

KALTENGSATU, Muara Teweh – Pemerintah Kabupaten Barito Utara (Pemkab Barut) melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olaharaga (Disbudparpora) setempat saat ini fokus dalam upaya pelestarian kebudayaan dan pengembangan pariwisata yang ada di daerah ini.

 

Kepala Budparpora Barito Utara Hj Annisa Cahyawati, di Muara Teweh, Rabu (23/6/2021)  mengatakan pihaknya saat ini fokus dalam upaya pelestarian kebudaaan dan penembangan pariwisata di daerah ini.

 

“Hal ini menjadi salah satu fokus Dinas Budparpora Barito Utara dalam upaya pelestarian kebudayaan dan pengembangn pariwisata di daerah ini,” katanya.

 

Menurut Hj Annisa, masyarakat dipedalaman Barito Utara Kalteng memiliki kebudayaan yang tinggi sejak lebih dari 5 abad silam antara lain memiliki keahlian memproses logam mulai dari proses penambangan biji besi hingga memproses menjadi salah satu produk logam.

 

Dikatakannya, penelitian telah dilakukan oleh Badan Arkelogi Kalimantan Selatan (selaku badan arkeologi wilayah Kalimantan) pada tahun 2017-2018 lalu. Dimana telah ditemukan teknik pengerjaan logam kuno sekitar abad 12-19 di DAS Barito Utara diwilayah Kecamatan Gunung Timang, Kecamatan Montalat, dan Kecamatan Teweh Timur dan Kecamatan Teweh Baru.

 

Lebih lanjut Hj Annisa serangkaian proses aktivitas peleburan biji besi (manitik) tradisi nenek moyang kita. “Teknik pengerjaan membuat benda logam dari bahan baku yang didapat dari menambang batu besi menjadi bahan setengah jadi (logam mentah) melalui peleburan sampai terbentuk benda atau alat besi yang diinginkan berupa senjata yang ampuh/sakral dengan menggunakan tungku,” katanya.

 

Hal ini jelas dia membuktikan bahwa sejarah dan perkembangan teknologi logam serta keahlian nenek moyang mengolah logam dapat dimaknai sebagai nilai-nilai kebudayaan yang menjadi identitas dan kebanggaan daerah bahkan nasional.

 

“Dengan memahami sejarah dan asal usulnya, tradisi ini dirasa perlu kita lestarikan sebagai salah satu teknologi tradisional bagian dari Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK). Dan setidaknya sebagai pewaris atau pelaku pandai besi yang merupakan proses akhir pembuatan alat besi setelah melalui tahap hingga penempaan untuk di bentuk menjadi sebuah alat,” kata Hj Annisa Cahyawati.

 

Menurutnya lagi, pemanfaatan potensi pandai besi peninggalan arkeologi di wilayah Barito Utara dapat menjadi alternatif diantaranya sebagai Wisata Budaya Minat Khusus yang diharapkan berdampak untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.(ari/kh1)