Indonesia Minggu, 30-08-2026 Jam 12:14:55
KaltengSatu
Home Berita LINTAS-KALTENG Barito Utara

Khutbah Salat Istisqa, Ketua MUI Ajak Masyarakat Muhasabah dan Jaga Lingkungan

by Redaksi - Tanggal 30-08-2026,   jam 12:14:55
Khutbah Salat Istisqa, Ketua MUI Ajak Masyarakat Muhasabah dan Jaga Lingkungan BERDOA MEMINTA KEPADA ALLAH SWT-Usia menyampaikan khutbah salat Istisqa, Ketua MUI Barito Utara Ustadz KH Rusmadi Darsani memimpin doa meminta kepada Allah SWT agar diturunkan hujan, di halaman kantor bupati, Minggu (30/8/2026).(foto:kaltengsatu)

KALTENGSATU, Muara Teweh – Pelaksanaan Salat Istisqa di tengah kemarau panjang menjadi momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan, memperbanyak istighfar serta melakukan introspeksi diri terhadap kondisi lingkungan.

 

Dalam khutbahnya, Ketua MUI Barito Utara KH Rusmadi Darsani mengajak seluruh jamaah untuk bersungguh-sungguh meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya.

 

Menurutnya, apabila seseorang belum mampu memperbanyak amal sunah, setidaknya dapat menjaga amal-amal wajib dan memastikan seluruh larangan Allah SWT ditinggalkan. Hal tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan kehidupan di dunia maupun di akhirat.

 

Khatib juga mengingatkan bahwa pelaksanaan Salat Istisqa merupakan bentuk ketaatan terhadap syariat ketika terjadi kemarau panjang. Namun, turunnya hujan sepenuhnya merupakan hak dan kehendak Allah SWT.

 

“Tidak ada yang wajib bagi Allah. Kita yang disyariatkan melaksanakan Salat Istisqa. Masalah hujan atau tidak hujan adalah hak sepenuhnya milik Allah SWT,” ungkapnya.

 

Meski demikian, kata dia umat Islam diminta tetap berprasangka baik dan berharap agar Allah SWT mengabulkan doa serta permohonan yang dipanjatkan dalam Salat Istisqa.

 

Khatib kemudian mengajak jamaah memperbanyak istighfar sebagaimana pesan Al-Qur'an dalam Surah Nuh ayat 10–11, bahwa memohon ampun kepada Allah SWT menjadi salah satu sebab datangnya rahmat dan turunnya hujan.

 

Selain memperbanyak istighfar, jamaah juga diajak memperbanyak salawat kepada Nabi Muhammad SAW, terlebih pelaksanaan Salat Istisqa tersebut berlangsung pada bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

 

“Perbanyaklah salawat dan salam kepada Baginda Rasulullah SAW. Beliau adalah teladan yang mengajarkan kita untuk berbuat baik kepada alam dan seluruh makhluk ciptaan Allah,” tuturnya.

 

Dalam khutbahnya, Ketua MUI Barito Utara juga mengaitkan kemarau panjang dengan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Manusia sebagai khalifah di muka bumi memiliki tanggung jawab untuk merawat lingkungan, bukan justru melakukan kerusakan.

 

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-A'raf ayat 56 yang mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.

 

Selain itu, Surah Ar-Rum ayat 41 juga mengingatkan bahwa kerusakan di daratan dan lautan terjadi akibat perbuatan tangan manusia. Karena itu, kondisi lingkungan yang mulai mengalami kerusakan harus menjadi bahan introspeksi bagi setiap individu.

 

“Jika kondisi kerusakan itu mulai terlihat, dirasakan dan dialami, maka sudah seharusnya kita segera menyadarinya dan menguatkan hati untuk lebih menjaganya,” pesannya.

 

KH Rusmadi Darsani juga menilai kemarau panjang dan kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi juga perlu menjadi bahan evaluasi bersama. Penggundulan hutan, penebangan pohon secara masif dan berkurangnya kawasan resapan air dapat memberikan dampak terhadap keseimbangan lingkungan.

 

Ketika musim hujan tiba, kondisi tersebut bahkan dapat meningkatkan risiko terjadinya banjir dan longsor karena berkurangnya pohon yang berfungsi menyerap air dan menguatkan struktur tanah.

 

Karena itu, masyarakat diajak membangun komitmen bersama untuk menjaga lingkungan, salah satunya melalui penghijauan dan reboisasi. “Dengan kita menanam pohon, melakukan reboisasi, lingkungan dan lahan kita tetap hijau dan sejuk,” ujarnya.

 

Khatib juga mengingatkan adanya keutamaan bagi seorang Muslim yang menanam pohon. Berdasarkan hadis sahih riwayat Imam Muslim, tanaman yang ditanam seorang Muslim dan kemudian dimanfaatkan oleh manusia maupun makhluk lainnya dapat menjadi sedekah bagi orang yang menanamnya.

 

Pesan tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi masyarakat untuk tidak hanya memohon turunnya hujan melalui Salat Istisqa, tetapi juga melakukan ikhtiar nyata dengan menjaga hutan, menanam pohon dan merawat lingkungan.

 

Pelaksanaan Salat Istisqa pun diharapkan menjadi momentum untuk memperbaiki hubungan manusia dengan Allah SWT sekaligus memperkuat kepedulian terhadap alam, sehingga hujan yang diharapkan nantinya membawa rahmat dan keberkahan bagi masyarakat serta seluruh lingkungan.(kh3)